Selamat datang di Dirr.Blogger

dirr.blogger adalah ruang digital tempat saya menuangkan ide, cerita, pengalaman, dan pandangan tentang berbagai hal mulai dari kehidupan sehari-hari, inspirasi, hingga topik-topik yang mungkin relate dengan kamu juga.Blog ini dibuat sebagai pengingat, pengarsipan pribadi, sekaligus tempat berbagi. Saya percaya bahwa setiap tulisan punya kekuatan untuk menghubungkan, menginspirasi, bahkan menyembuhkan. Semoga apa yang kamu temukan di sini bisa memberi sedikit makna, wawasan, atau sekadar teman bacaan ringan di sela waktu luangmu. Jelajahi berbagai kategori, tinggalkan komentar, atau cukup nikmati saja. Kamu selalu diterima di sini..

INSTAGRAM TIKTOK

TUGAS

TENTANG DIRIKU

SEPUTAR PROFIL TENTANG DIRIKU.

Read More

tugas

tugas

Read More

tugas 1

tugas 2

Read More

tugas 1

tugas 1.

Read More

TUGAS

tugas

tugas.

Read More

tugas

tugas

Read More

belum ada

belum ada

Read More

tugas

tugas.

Read More

Recent Work

Selasa, 20 Januari 2026

Tips Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental Selama Berpuasa

 



Selama bulan ramadhan, seluruh umat muslim diharuskan untuk menahan lapar dan dahaga selama lebih dari 12 jam. Sehingga dengan kondisi demikian, tubuh tidak akan terhidrasi dengan baik dan tidak pula terpenuhi kebutuhan vitamin hariannya. Selain itu, kewajiban untuk meningkatkan volume ibadah dan bangun di pertengahan malam untuk santap sahur, membuat pola tidur tidak teratur.

Kondisi demikian,akan menyebabkan terganggunya kesehatan seseorang. Sehingga dengan demikian, panduan atau tips menjaga kesehatan tubuh selama bulan ramadhan menjadi penting untuk dipahami dan diterapkan dengan baik

Berikut ini adalah beberapa tips menjaga kesehatan selama bulan ramadhan agar kondisi tubuh senantiasa berada dalam kondisi yang fit dan siap untuk menjalani ibadah dan aktivitas. Diantaranya adalah ;

1. Pola Makan Sahur yang baik

Sahur memiliki peran yang sangat penting untuk menjaga stamina tubuh selama menjalankan ibadah puasa dan aktivitas ketika di siang hari. Untuk itu, perbanyak konsumsi makanan yang tinggi serat seperti buah dan sayur, serta hindari makanan yang tinggi minyak karena akan menyumbat pembuluh darah dan menyebabkan kantuk di siang hari

2. Pola makan saat berbuka

Langsung mengkonsumsi makanan yang banyak ketika berbuka puasa, akan menyebabkan perut menjadi sesak, sehingga makan makanan secukupnya secara bertahap, dimulai dengan mengkonsumsi air putih dan sedikit makanan manis.

3. Menjaga pola makan malam

Makan malam terlalu banyak saat malam hari akan menyebabkan seseorang mengalami obesitas, sehingga harus dihindari. Selain itu juga hindari konsumsi kopi dan soda karena akan menyebabkan sulit tidur dan menimbun banyak lemak.

4. Aktivitas fisik, minimal 30 menit.

Meskipun sedang berpuasa, aktivitas fisik masih sangatlah penting untuk menjaga kebugaran tubuh

5. Menjaga pola tidur

Jika harus melakukan persiapan untuk sahur dan bangun di pagi hari, maka hindari tidur terlalu malam untuk keperluan yang tidak terlalu penting.


Sumber : Tips Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental Selama Berpuasa

Peran Ramadan dalam Membentuk Akhlak dan Karakter Muslim

 



Menginjak hari ke delapan di bulan suci Ramadhan ini sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan untuk mengisi kultum ba’da Dzuhur, kini giliran ustadz H. Ahmad Salim, M.Si untuk memberikan tausiyah singkat di hadapan Jama’ah Masjid Nurul Muhajirin di jalan Permi kota Ambon. Pada kempatan ini ustadz H. Ahmad Salim menyampaikan kultumnya dengan tema “Puasa sebagai Pembentukan Karakter Muslim”. Membuka tausiyahnya ustads H. Ahmad Salim berujar: DIWAJIBKAN berpuasa di bulan Ramadhan telah diketahui oleh semua umat muslim karena puasa merupakan satu di antara rukun Islam. Selain merupakan kewajiban, puasa banyak mengandungan manfaat bagi umat muslim, baik secara psikis, psikologi, maupun secara rohani. Namun tujuan utama dari puasa adalah untuk menggapai takwa kepada Allah SWT.

Takwa adalah pangkal pembentukan karakter seorang muslim sejati. Sebab dengan takwa yang tertanam dalam jiwa akan terpancar seluruh kebaikan. Takwa adalah melaksanakan seluruh perintah Allah SWT. dan menjauhi segala larangan-Nya. Jika seseorang telah meraih takwa, ia akan senantiasa berupaya untuk menggapai ridha Allah SWT. Puasa adalah ibadah yang paling dominan dalam mendorong seseorang untuk mendapat gelar muttaqin (orang-orang yang bertakwa).

Saat seseorang menjalankan ibada puasa, ia telah melatih fisik dan rohaninya untuk menjauhi sesuatu yang sebenarnya dihalalkan pada waktu di siang hari, semata-mata karena iman dan mengikuti perintah Allah SWT.

Puasa adalah ibadah yang paling dominan dalam mendorong seseorang untuk mendapat gelar muttaqin (orang-orang yang bertakwa).


Saat seseorang menjalankan ibada puasa, ia telah melatih fisik dan rohaninya untuk menjauhi sesuatu yang sebenarnya dihalalkan pada waktu di siang hari, semata-mata karena iman dan mengikuti perintah Allah SWT. Dengan latihan berpuasa seorang muslim akan lebih mudah meninggalkan sesuatu yang memang sejak semula diharamkan demi dorongan iman dan Islam. Puasa juga latihan untuk menghadapi musuh yang muncul dalam diri sendiri. Musuh paling besar dalam kehidupan umat manusia adalah godaan dan ancaman yang datang dari dalam dirinya sendiri. Manusia mempunyai sifat baik dan buruk yang selalu bertarung dalam dirinya. Jika manusia tidak mampu memerangi syahwat buruknya, maka akan terpuruk dan menjadi hina dina. Jika mampu memenangkan ruh yang suci maka manusia akan mencapai puncak kemuliaan. Manusia yang mempu memerangi musuh besar dalam dirinya akan lebih terlatih untuk menghadap serangan musuh dari luar dirinya.

Godaan syaitan, serangan kaum kuffar, dan hasutan kaum munafik akan dengan mudah ditangkal jika ada kekebalan dan kekuatan yang telah tertanam dalam dirinya. Ibnu Katsir mengatakan dalam kitab tafsirnya, perintah puasa untuk menahan diri dari makan, minum, dan hubungan intim dengan suami atau istrinya, bertujuan membersihkan jiwa, raga dari sikap tercela guna mencapai akhlak mulia. Menurut Sayyid Qutub, Ibadah puasa dapat menjadi terapi untuk memotivasi hati dalam melaksanakan kewajiban guna menggapai ridha Allah SWT. Bukti puasa dapat menggapai kesucian jiwa dan sarana terbentuknya karakter muslim sejati, saat selesai puasa bulan Ramadhan dianjurkan untuk mengumandangkan takbir.

Hal ini untuk mensyukuri atas nikmat hidayah (petunjuk) yang telah Allah berikan kepada kaum muslim yang telah mampu melaksanakan ibadah puasa. Allah SWT berfirman, "Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan (takbir) Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (Al-Baqarah: 185). Suara takbir adalah ungkapan kebahagiaan yang sekaligus adalah ucapan syukur kepada Allah SWT atas segalah petunjuknya dalam mengarungi kehidupan. Allah SWT telah mengkaruniakan iman, Islam, dan Ihsan sehingga terbentuk sebuah karakter pribadi muslim ideal. Tak semua orang bisa mendapatkan hidayah-Nya.

Sebab hidayah bukan semata-mata diperoleh melalui kecerdasan atau berdasarkan intelektualitas. Hidayah adalah karunia yang diberikannya kepada hamba yang dikehendaki-Nya menjadi orang baik di dunia dan bahagia di akhirat. Oleh karenanya, puasa yang telah disempurnakan bilangannya selama sebulan penuh harus disyukuri karena telah melatih untuk terbentuknya jati diri dan karakter manusia yang kokoh sesuai dengan petunjuk Allah SWT. Mudah-mudahan kita semua umat muslim dapat menjalankan ibadah puasa secara baik, sesuai syariah dan didorong oleh keimanan sehingga puasanya diterima Allah SWT dan menjadi amal baik untuk membentuk kepribadian utuh dan punya kepedulian sosial. Amin. Pungkasnya. (CBN/Hm.W)


Sumber : Peran Ramadan dalam Membentuk Akhlak dan Karakter Muslim


Ramadan Sebagai Momentum Memperbaiki Diri (Self-Improvement)

 



Bulan Ramadhan adalah bulan suci umat islam yang selalu dinanti-nantikan. Mulai dari desa-desa hingga luar negeri, umat Islam sangat antusias menyambutnya. Maka tak heran setiap  momentum Ramadhan banyak kita jumpai suatu festival atau sebuah perayaan untuk menyambutnya.


Selama sebulan, umat Islam menjalankan kewajiban puasa, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an; "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa". (Q.S. Al Baqarah: 183). Maka dengan itu kewajiban puasa Ramadhan adalah suatu hal yang harus dikerjakan oleh umat Islam, yang juga terdapat pada lima rukun Islam. Pada rukun Islam kelima adalah kewajiban umat Islam berpuasa Ramadhan.


Di balik kewajiban puasa banyak ditemukan keistimewaan, mulai dari sisi psikologis, biologis, neurosains, dan sebagainya. Puasa tak hanya menahan lapar dan dahaga. Banyak ilmuwan menyatakan, puasa mempunyai banyak manfaat bagi tubuh manusia. Pada tulisan ini akan sedikit kita bahas mengenai rahasia di balik kewajiban puasa yang ditetapkan oleh Allah kepada umatnya. Sehingga menjadikan kita menjalankan ibadah puasa bukan karena menggugurkan kewajiban kita sebagai Muslim, namun puasa itulah yang akan menjadikan diri kita menjadi lebih sehat rohani dan jasmani.


Puasa merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki kedudukan penting dalam Islam. Tidak hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, puasa juga menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam perspektif teologis, puasa merupakan bentuk ketaatan manusia terhadap perintah Allah, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur'an.


Dengan menjalankan puasa, seorang Muslim diajarkan untuk meningkatkan kesabaran, keikhlasan, serta ketundukan kepada Sang Pencipta. Puasa menjadi ajang pembinaan spiritual yang mengasah kepekaan batin dan memperkuat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.


Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: "barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". (HR. Bukhari dan Muslim). Hal ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya ibadah wajib, tetapi juga memiliki manfaat besar dalam meningkatkan kualitas spiritual dan mendekatkan diri kepada Allah. 


Dari sisi psikologis, puasa memiliki manfaat yang luar biasa bagi kesehatan mental seseorang. Dengan menahan diri dari berbagai bentuk hawa nafsu, seseorang belajar untuk mengendalikan emosinya, sehingga lebih mampu menjaga kestabilan emosi dan mengurangi stres. Puasa juga meningkatkan kesadaran diri (self-awareness), di mana seseorang lebih memahami kondisi batinnya dan mampu mengontrol reaksi terhadap berbagai situasi kehidupan. 


Menurut penelitian Dr. Richard J. Davidson, seorang ahli neurosains dari University of Wisconsin-Madison, praktik ibadah seperti puasa dapat meningkatkan aktivitas otak pada bagian prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas pengendalian diri dan perencanaan jangka panjang. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa puasa dapat membantu mengurangi tingkat kecemasan dan depresi karena meningkatnya produksi hormon serotonin dan endorfin dalam tubuh.


Selain itu, puasa juga dapat memberikan ketenangan batin karena ibadah ini mengajarkan kesabaran, rasa syukur, serta kepedulian terhadap sesama. Dengan mengurangi rangsangan dari luar dan meningkatkan introspeksi diri, seseorang yang berpuasa lebih mampu menghadapi tekanan hidup dengan cara yang lebih positif dan konstruktif.


Dari sudut pandang biologis, puasa memiliki manfaat yang telah banyak diteliti oleh para ilmuwan. Saat seseorang berpuasa, tubuh mengalami proses detoksifikasi alami, di mana racun-racun yang tersimpan dalam tubuh mulai dibersihkan. Selain itu, puasa juga berkontribusi dalam meningkatkan sistem metabolisme tubuh dan memperbaiki fungsi organ-organ vital.


Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. Yoshinori Ohsumi, seorang ahli biologi sel dari Jepang yang memenangkan Hadiah Nobel dalam bidang Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 2016, puasa dapat mengaktifkan proses autophagy. Autophagy adalah proses alami di mana tubuh membersihkan sel-sel yang rusak dan mendaur ulang komponen-komponennya, yang berkontribusi pada peremajaan sel dan perlindungan terhadap penyakit kronis seperti kanker dan Alzheimer.

Beberapa penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa puasa dapat memperlambat proses penuaan, meningkatkan daya tahan tubuh, serta membantu dalam pengaturan kadar gula darah dan kolesterol. Studi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health juga menemukan bahwa pola puasa intermiten dapat meningkatkan sensitivitas insulin, yang sangat bermanfaat dalam pencegahan diabetes tipe 2.

Puasa Membentuk Karakter

Selain itu, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal "Cell Metabolism" menyatakan bahwa puasa dapat meningkatkan produksi hormon pertumbuhan (HGH) hingga lima kali lipat, yang berperan penting dalam regenerasi otot, peningkatan metabolisme, dan pembakaran lemak. Oleh karena itu, puasa tidak hanya berdampak pada kesehatan spiritual tetapi juga memberikan keuntungan besar bagi kesehatan fisik.

Puasa bukan sekadar ritual ibadah, tetapi juga memiliki dampak besar dalam membentuk karakter seseorang. Dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, seseorang belajar untuk lebih disiplin, sabar, dan memiliki empati terhadap orang lain yang kurang beruntung. 

Menurut survei yang dilakukan oleh Pew Research Center, sebanyak 78% umat Islam di seluruh dunia merasakan peningkatan spiritualitas dan solidaritas sosial selama bulan Ramadan. Data dari Bank Dunia juga menunjukkan bahwa selama bulan Ramadan, tingkat donasi dan sedekah meningkat secara signifikan hingga 30% di berbagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim. Hal ini menunjukkan puasa mendorong kepedulian sosial dan berbagi dengan sesama.

Puasa juga membantu seseorang untuk lebih fokus pada tujuan hidupnya, baik secara spiritual maupun duniawi. Dalam bulan Ramadan, umat Islam diajak untuk lebih banyak berbuat kebaikan, memperbaiki diri, serta memperkuat hubungan sosial dengan sesama. Oleh karena itu, puasa tidak hanya meningkatkan kualitas individu, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan penuh dengan nilai-nilai kebaikan.

Dengan berbagai manfaat dari berbagai aspek, puasa Ramadhan bukan sekadar kewajiban agama, tetapi juga merupakan kesempatan bagi setiap individu untuk meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan spiritual, serta memperkuat solidaritas sosial dalam kehidupan bermasyarakat.


Sumber : Ramadan Sebagai Momentum Memperbaiki Diri (Self-Improvement)

Keutamaan Malam Lailatul Qadar dan Cara Meraihnya

 



Lailatul Qadar adalah salah satu rahasia terbesar dalam bulan Ramadhan. Malam ini lebih baik dari seribu bulan dan menjadi kesempatan emas bagi setiap Muslim untuk mendapatkan ampunan dan pahala yang melimpah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۝ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 1-3)

Setiap Muslim dianjurkan untuk meningkatkan ibadah di 10 malam terakhir Ramadhan demi meraih keberkahan malam ini. Berikut adalah keutamaan Lailatul Qadar dan cara meraihnya.

Keutamaan Lailatul Qadar

1. Lebih Baik dari 1000 Bulan

Ibadah pada malam ini lebih bernilai daripada ibadah selama 83 tahun.

. Malam Diturunkannya Al-Qur’an

Lailatul Qadar menjadi malam yang istimewa karena Al-Qur’an diturunkan pada malam ini.

3. Penuh Kedamaian Hingga Fajar

Malam ini dipenuhi dengan ketenangan dan keberkahan hingga terbit fajar.

4. Para Malaikat Turun ke Bumi

Malam ini malaikat turun membawa rahmat dan kebaikan bagi orang-orang yang beribadah.

5. Diampuni Segala Dosa

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)

Cara Meraih Lailatul Qadar

1. Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan

Rasulullah SAW bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.” (HR. Bukhari)

2. Melaksanakan Sholat Malam (Qiyamul Lail)

Sholat Tahajud dan sholat lainnya sangat dianjurkan pada malam ini.

Membaca Al-Qur’an dengan Tadabbur

Perbanyak membaca dan memahami Al-Qur’an untuk mendapatkan keberkahannya.

4. Memperbanyak Dzikir dan Doa

Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW:

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف ني

"Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, mencintai ampunan, maka ampunilah aku." (HR. Tirmidzi)

5. Memperbanyak Istighfar dan Taubat

Memohon ampunan kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh.

6. Bersedekah dengan Ikhlas

Sedekah pada malam ini akan dilipatgandakan pahalanya.

7. I’tikaf di Masjid

Rasulullah SAW senantiasa beri’tikaf di 10 malam terakhir Ramadhan untuk mendapatkan Lailatul Qadar.

Menjaga Niat dan Keikhlasan

Ibadah yang dilakukan harus dilandasi dengan niat yang ikhlas hanya karena Allah SWT.

Lailatul Qadar adalah malam penuh kemuliaan yang sebaiknya tidak kita sia-siakan. Dengan meningkatkan ibadah di 10 malam terakhir Ramadhan, kita memiliki peluang besar untuk mendapatkan keberkahan dan ampunan dari Allah SWT.


Sumber :Keutamaan Malam Lailatul Qadar dan Cara Meraihnya

Puasa di Era Digital: Tantangan dan Solusinya




Tantangan puasa di Era Digital, jauh lebih berat dari era-era sebelumnya. Kecanggihan teknologi dan informasi yang menjadi ciri utama dari era ini adalah salah satu tantangan beratnya. Orang mungkin masih bisa kalau sekadar tidak makan, minum dan berhubungan intim. Namun, apa bisa lepas dengan gadget dan media sosial kekinian?

Di dalam definisi fikih, memang puasa dikatakan batal ketika ketiga hal yang membatalkannya (makan, minum dan berhubungan intim) dilakukan. Namun, di atas hukum fikih ada hal-hal yang disampaikan nabi yang bisa merusak puasa seperti, berkata dan berbuat dusta dan lain sebagainya.

Masalahnya kemudian, mampukah setiap individu mengendalikan hal-hal yang bisa merusak puasa, jika berbagai fasilitas di era digital begitu memanjakan dan melenakan? Sebagai contoh, bisakah orang selama Ramadhan berpuasa dari gadget HP kecuali kalau memang sangat butuh untuk hal yang bermanfaat atau bagian dari pekerjaannya?

Kenyataannya, di kantor, rumah, masjid, jalanan, kendaraan, dan pusat keramaian hampir susah melihat orang yang tak sibuk dengan HP masing-masing. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, HP menjadi barang nomer wahid yang paling diingat. Keingintahuan akan berita terkini, update terbaru, kabar teman di FB, Intagram, Twitter dan lain sebagainya lebih memikat dan membuat penasaran hati daripada subtansi dari ibadah puasa.

Padahal, ditilik dari segi bahasa, subtansi puasa adalah “al-Imsaak” (pengendalian). Pengendalian diri ini kalau dibaca dalam kitab fikih berikut sejarah nabi dan orang-orang saleh, bukan saja menyangkut masalah jasmani tapi juga rohani.

Padahal, ditilik dari segi bahasa, subtansi puasa adalah “al-Imsaak” (pengendalian). Pengendalian diri ini kalau dibaca dalam kitab fikih berikut sejarah nabi dan orang-orang saleh, bukan saja menyangkut masalah jasmani tapi juga rohani.


Kisah-kisah generasi salaf berikut cukup menghenyakkan di tengah fenomena puasa di era digital. Imam Malik bin Anas rahimahullah yang dikenal sebagai Ahli Hadits dan pengasas Madzhab Maliki, jika sudah masuk bulan Ramadhan, beliau menghentikan segala aktivitasnya termasuk mengajar hadits, dan menyibukkan diri dengan membaca al-Qur`an.


Tsufyan Ats-Tsauri juga demikian. Ketika bulan Ramadhan, ibadah yang paling difokuskannya –selain yang wajib- adalah membaca Al Quran. Beliau benar-benar fokus menghabiskan waktunya untuk membaca kalam ilahi.

Imam Bukhari, setiap bulan Ramadhan bisa mengkhatamkan Al Quran setiap hari. Sedangkan selepas shalat Tarawih, tiap tiga malam beliau khatam Al Quran.

Menurut kesaksian Rabi’ bin Sulaiman, Imam Syafi’i di bulan Ramadhan mengkhatamkan Al Quran 60 kali. Apa yang diceritakan Rabi’ –sang murid- mengenai gurunya ini menunjukkan manajemen waktu yang hebat dari sosok sekaliber Syafi’i yang tidak mau menyia-nyiakan waktu emas Ramadhan.

Masih banyak lagi cerita yang menunjukkan bahwa mereka begitu serius dalam memanfaatkan momentum Ramadhan dengan ibadah-ibadah unggulan. Mereka menyadari betul bahwa hanya amal-amal agung yang layak diprioritaskan di bulan yang agung ini. Hal-hal sia-sia yang bisa merusak dan menyia-nyiakan nilai ibadah puasa, pasti mereka tinggalkan.

Di zaman digital ini, utamanya generasi yang disebut ‘zaman now‘ mampukah mengatasi tantangan puasa di era digital? Tentu saja, meski berat, sebesar apapun tantangan pasti bisa diatasi atas izin Allah Subhanahu wata’ala.

Namun, beberapa kiat berikut paling tidak bisa mengatasi atau meringankan tantangan berat puasa di era digital.

Namun, beberapa kiat berikut paling tidak bisa mengatasi atau meringankan tantangan berat puasa di era digital.

Pertama, berpuasa dengan basis ilmu yang kuat bukan karena ikut-ikutan. Orang yang berpuasa berdasarkan ilmu yang shahih, tidak akan berhenti pada puasa jasmani saja, hal-hal yang menyangkut rohani juga diperhatikan.

Kedua, menjadikan gadget dan alat komonikasi lainnya, sebagai barang yang juga dikendalikan atau wajib dipuasai. Artinya, tahu kapan harus membuka atau tidak menggunakannya. Bila di luar Ramadhan aktivitas bersama gadget 90 %, maka dalam bulan puasa bisa dikendalikan sampai 50 %. Itu pun digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat saja.

Ketiga, membayangkan jika Ramadhan tahun ini adalah bulan terakhirmu. Teramat disayangkan jika, di Ramadhan akhir tiap detik waktunya digunakan untuk hal yang remeh dan kecil. Jika orang tahu bahwa besok akan meninggal dunia, pasti akan berupaya melakukan amal yang terbaik sebagai bekal untuk menghadapi sidang di akhirat.

Dengan ketiga poin tersebut, jika dilakukan secara serius, insya Allah tidak ada kendala berarti ketika berpuasa di era digital. Jangan sampai puasa kita gagal, di era digital.


Sumber : Puasa di Era Digital: Tantangan dan Solusinya

Amalan Sunnah di Bulan Ramadan yang Sering Terlewatkan

 



Sebenarnya sunnah tersebut sudah tahu dan nggak lupa sih… tapi ada rasa malas dan lemah untuk menjalankannya. Kenapa?

Bagi sebagian kalangan bulan mulia ini bukan menjadi ajang untuk memperbanyak amalan ibadah namun hanya menjadi ajang mengejar keuntungan duniawi semata. Sehingga banyak amalan wajib dan sunnah yang terlupakan.

Amalan Sunnah Apa Saja yang Sering Dilupakan?

Setelah melewati ramadhan tahun lalu, apakah ada renungan untuk memasang target agar tahun ini menjadi lebih bermakna? Apakah ada amalan yang masih sering dilalaikan dan terlewat begitu saja?

Berikut beberapa amalan sunnah yang sering terlupakan, semoga tidak untuk saat ini… aamiin.

Sholat Sunnah Qabliyah Shubuh

Salah satu hikmah mengakhirkan sahur menjelang waktu shubuh, agar tidak terlewat ibadah solat subuh dan dengan demikian juga kita akan melakukan qabliyah subuh. Jika sahur terlalu dini hari mengakibatkan ngantuk dan tertidur sehingga terlewat bangun shalat shubuh tepat waktu di masjid.

Do'a diantara adzan dan iqomat

Berdo’a diantara waktu adzan dan iqomat merupakan amalan sunnah yang dianjurkan karena termasuk diantara waktu yang mustajab. Luangkan waktu dan rutinkan hal ini agar menjadi kebiasaan baik yang istiqomah.

Dzikir pagi dan petang

Bagi sebagian masyarakat perkotaan yang disibukkan dengan perjalanan menuju tempat kerja maka dapat mendengarkan dengan cara mendownload di youtube. Sehingga di sela-sela perjalanan menuju ke kantor dan pulang ke rumah, dapat mendengar dan membaca dzikir pagi dan petang.

Sholat dhuha dan ataupun Sholat Dhuha yang paling awal (shalat Isyrâq)

Barangsiapa yang shalat Shubuh berjamaah, kemudian dia duduk berzikir kepada Allâh hingga matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka baginya pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna.” [HR. At-Tirmidzi, no. 586, dari hadits Anas bin Malik-RadhiAllâhu anhu–]

Syaikh Ibnu Bâz rahimahullah ditanya tentang hal tersebut, maka beliau rahimahullah berkata, “Hadits ini memiliki jalur periwayatan yang lumayan baik, maka dapat dikatakan sebagai hadits hasan lighairihi. Maka shalat tersebut disunnahkan setelah matahari terbit dan meninggi seukuran tombak, yakni kira-kira setelah sepertiga atau seperempat jam dari waktu terbitnya.” [Fatâwâ Syaikh Ibnu Bâz, 25/171]

Mengikuti Kajian Keislaman

Setelah berakhirnya pandemi maka semangat untuk mengikuti kajian secara offline harus kembali digalakkan, yaitu dengan cara datang ke masjid. Ramadhan dapat menjadi pompa untuk memacu semangat tersebut untuk melangkah menuju jalan kebaikan.

Tidur sesaat sebelum waktu Dzuhur

Qailulah termasuk ibadah yang disunahkan, sebagaimana disimpulkan oleh Imam Syarbini rahimahullah, Disunahkan bagi orang yang ingin melakukan sholat tahajud, untuk ber-qailulah, yaitu tidur sebelum duhur. Qailulah itu manfaatnya seperti sahur bagi orang yang puasa.

Membekali Ramadhan dengan Ilmu

Raih keberkahan ilmu seputar Ramadhan dengan menghadiri atau mendengarkan kajian serta membaca buku tentang Ramadhan.

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz juga pernah berkata,“Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ia perbuat lebih banyak daripada maslahat yang diperoleh.” (Majmu’ Al Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 2: 282).

Menjaga silaturahmi dan saling memaafkan

Sering banyak broadcast saling meminta maaf menjelang bulan Ramadhan. Padahal ketika memiliki masalah kepada orang lain sejatinya dapat dilakukan kepada personal atau pribadinya langsung yang telah kita sakiti hatinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pintu surga dibuka pada hari Senin dan kamis. Setiap hamba yang tidak berbuat syirik pada Allah sedikit pun akan diampuni (pada hari tersebut) kecuali seseorang yang memiliki percekcokan (permusuhan) antara dirinya dan saudaranya. Nanti akan dikatakan pada mereka, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai.” (HR. Muslim no. 2565).

Memperbanyak do’a yang diharapkan pada bulan ini

Allah Azza wa Jalla befirman, Dan apabila hamba-Ku bertanya kepada engkau (wahai Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) tentang Aku, maka (sampaikanlah) sesungguhnya Aku dekat, Aku menjawab permohonan doa yang dipanjatkan kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu mendapatkan petunjuk” [al-Baqarah/2:186]

Puasa adalah momentum terbaik dikabulkannya doa, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan ayat ini di tengah ayat-ayat puasa, dan dipertegas oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan sebagian Ulama mengatakan anjuran berdoa di akhir puasa yakni ketika berbuka.


Sumber : Amalan Sunnah di Bulan Ramadan yang Sering Terlewatkan

Senin, 19 Januari 2026

Hikmah Ramadan: Melatih Kesabaran dan Kepedulian Sosial

 



Puasa adalah salah satu ibadah yang memiliki banyak manfaat, baik secara spiritual maupun sosial. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan, puasa juga merupakan sarana untuk melatih kesabaran dan meningkatkan empati terhadap sesama. Dalam menjalankan ibadah ini, seseorang dituntut untuk menahan diri dari makan, minum, serta berbagai perilaku negatif yang dapat merusak nilai ibadah puasa itu sendiri.

Melatih Kesabaran dalam Berbagai Aspek

Puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi latihan bagi setiap individu dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Kesabaran yang diperoleh dari berpuasa mencakup beberapa aspek berikut:

Kesabaran Fisik: Dengan menahan lapar dan haus, tubuh dilatih untuk bertahan dalam kondisi yang tidak nyaman. Ini membangun ketahanan fisik dan mental yang lebih baik.

Kesabaran Emosional: Menahan amarah dan emosi negatif saat berpuasa membantu seseorang untuk lebih mengendalikan dirinya dan menghadapi situasi dengan lebih tenang.

Kesabaran dalam Beribadah: Puasa juga mengajarkan ketekunan dalam menjalankan ibadah lainnya, seperti salat, membaca Al-Qur'an, dan memperbanyak doa.

Dengan berlatih kesabaran selama berpuasa, seseorang akan lebih mampu menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari dengan kepala dingin dan hati yang lapang.

Meningkatkan Rasa Empati Terhadap Sesama

Salah satu hikmah terbesar dari puasa adalah meningkatkan empati terhadap orang-orang yang kurang beruntung. Ketika seseorang menahan lapar dan haus, ia dapat merasakan apa yang dialami oleh mereka yang hidup dalam keterbatasan. Hal ini menumbuhkan rasa peduli dan keinginan untuk membantu sesama.

Beberapa cara puasa meningkatkan empati antara lain:

Merasakan Kesulitan Orang Lain: Dengan mengalami sendiri bagaimana rasanya lapar, seseorang lebih memahami penderitaan orang-orang yang sering mengalami kelaparan.

Mendorong Perbuatan Baik: Selama bulan puasa, banyak orang terdorong untuk berbagi makanan, memberikan sedekah, dan melakukan tindakan kebaikan lainnya.

Mempererat Hubungan Sosial: Puasa menjadi momen untuk berbagi kebahagiaan dengan keluarga, teman, dan masyarakat sekitar melalui kegiatan seperti buka puasa bersama dan berbagi takjil.

Mengendalikan Diri dari Hal Negatif

Selain membangun kesabaran dan empati, puasa juga melatih seseorang untuk menjauhi hal-hal negatif. Menahan diri dari perilaku buruk selama berpuasa dapat membawa dampak positif yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa manfaat dari pengendalian diri selama berpuasa antara lain:

Mengurangi kebiasaan berbicara kasar dan menyakiti orang lain

Menahan diri dari kebiasaan buruk seperti merokok dan bergosip

Memperkuat keteguhan hati dalam menjauhi godaan yang tidak bermanfaat

Dengan latihan ini, seseorang menjadi lebih mampu menjaga sikap dan perilaku baik bahkan setelah bulan puasa berakhir.

Dampak Positif Puasa dalam Kehidupan Sehari-hari

Puasa yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan akan memberikan dampak positif yang luas dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat yang diperoleh antara lain:

Menumbuhkan rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan

Meningkatkan kesehatan dengan memberi waktu bagi sistem pencernaan untuk beristirahat

Menumbuhkan kebiasaan baik seperti disiplin dalam menjalankan rutinitas ibadah dan memperbanyak perbuatan baik

Dengan memahami hikmah puasa, seseorang dapat menjalankan ibadah ini dengan lebih penuh kesadaran dan menjadikannya sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas diri.

Puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dan haus, tetapi juga merupakan latihan spiritual yang membantu seseorang dalam meningkatkan kesabaran dan empati. Melalui puasa, seseorang dapat belajar mengendalikan diri, mempererat hubungan sosial, serta menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama. Dengan menerapkan hikmah puasa dalam kehidupan sehari-hari, seseorang akan menjadi pribadi yang lebih sabar, peduli, dan bertanggung jawab.


Sumber : Hikmah Ramadan: Melatih Kesabaran dan Kepedulian Sosial

Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

TERIMA KASIH KEPADA

SMAN 2 KEDIRI
SEKOLAH
TENAGA PENDIDIKAN
TENAGA PENDIDIKAN
ORANG TUA SAYA
ORANG TUA
PENYEDIA TEMPLATE
LAM ALIF

Contact

Talk to us

jika ada yang ditanyakan dari blog saya bisa menghubungi saya di informasi kontak saya

Alamat:

PERUMAHAN BUMI ASRI BLOK W-3,KALIOMBO, KOTA KEDIRI C

WAKTU ONLINE:

SETIAP HARI

NOMOR WA:

0856 0486 6976